Aku bukan penyair. Aku hanya menikmati sajak dan puisi yang menetes dari bibirku ketika kubacakan. Rasanya manis, madu kehidupan. Pengetahuanku tentang puisi tidak seberapa. Aku hanya baca beberapa buku puisi penyair, berakses terbatas, itupun baru beberapa bulan terakhir. Aku sekedar penikmat sajak-sajak kuasa dan kata-kata kuat.

Sampai detik ini hanya ada beberapa buku puisi yang baru kubaca. DukaMu Abadi dan Mata Jendela – Sapardi Djoko Damono, Celana – Joko Pinurbo, Ardi Wirambara dengan buku puisi indie-nya, Aku Ingin Jadi Peluru – Wiji Thukul, Catatan Subversif – Saut Situmorang, Aku – sekenario Sjuman Djaya film Chairil Anwar, dan Kepulangan Kelima – Irwan Bajang. Tidak banyak. Karena musikpuisi lebih mampu membuatku jatuh hati daripada puisi. Misalnya musikalisasi puisi oleh Reda dan Nana atas puisi-puisi Sapardi. Atau album Kepulangan Kelima kolaborasi Mas Bajang dengan Ari Kpin.
Meski hanya sebaris dua baris, kalimat yang kuat dapat menghantui penyair dan pembaca sekaligus. Kata-kata bisa mengubah dunia, katanya. Hanya kata-kata kuat lah yang bisa melakukannya. Pun satu kali puisi mengubah hidupku.

Advertisements