Tulisan ringan ini saya sampaikan didepan peserta workshop ASPBJI Sulselbar “Workshop Pengajaran Buku Marugoto dan Seminar Kejepangan”,        1 Oktober 2016.

Beberapa waktu belakangan ini saya sering berdiskusi tentang kebudayaan Jepang, mulai dari kebudayaan populer hingga yang tradisional. Tetapi poin menarik bagi saya ialah adanya pandangan universal (umum) tentang kebudayaan Jepang. Pandangan universal tersebut seperti: orang Jepang itu tepat waktu, memiliki budaya antri, disiplin, orang Jepang itu hidupnya bersih, dan lain-lain.

Dulunya saya pun berpikiran hal yang sama dengan teman itu, ditambah lagi cerita-cerita kakek saya dulu juga memiliki pandangan yang persis sama seperti pandangan umum itu kecuali “Memory of war”.  Tetapi, pernahkah kita bertanya Apakah Jepang sejak dulu memang seperti itu dan mencari jawaban yang sesungguhnya tentang pertanyaan yang sangat mengganggu itu? Dalam tulisan ini saya mencoba berdiskusi dengan anda tentang politik kebudayaan yang telah mampu merubah sudut pandang kita menjadi pandangan universal tentang kebudayaan masyarakat Jepang.

Saya akan memulai diskusi ini dengan ketepatan waktu, di Jepang sendiri ketepatan waktu dulunya tidak seperti yang umum kita kenal sekarang ini, dalam sebuah jurnal yang berjudul “Japanese clocks and the history of punctuality in modern Japan”, Hahimoto menceritakan kedatangan seorang Eropa, Willem van Kattendyke, pada tahun 1857 ke Nagasaki. Kattendyke mengajarkan prinsip navigasi dan teknologi pembuatan kapal kepada para pemuda Jepang. Dalam memoirnya, dia mengeluhkan perilaku para pemuda ini sebagai orang yang tidak tepat waktu. Dia mencontohkan, beberapa perlengkapan untuk perbaikan kapal datang sangat tidak tepat waktu, masuk terlambat kerja dan sering tidak masuk bekerja.

Keluhan Kattendyke ini juga dirasakan oleh insinyur asing yang datang ke Jepang pada akhir abad 19. Mereka juga merasakan kejengkelan yang sama terhadap kebiasaan bangsa Jepang di masa itu. Kebiasaan mereka yang tidak menghargai waktu. Ketika sistem perkeretaan diperkenalkan, keterlambatan selama 30 menit merupakan hal yang lumrah.

Pada masa Meiji, pekerja Jepang banyak yang libur dan mencutikan diri pada perayaan-perayaan yang erat kaitannya dengan budaya dan agama. Absen dari pekerjaan juga cukup tinggi hingga (20%), sangat berbeda dengan kondisi orang Jepang saat ini yang sakit pun tetap berangkat bekerja (absen 0%). Mereka juga dengan mudah berhenti bekerja, dan tidak menunjukkan etos kerja di Jepang yang terkenal saat ini, yaitu bekerja seumur hidup atau hingga pensiun di sebuah perusahaan/instansi.

Tulisan yang lainnya, Tetsuro Kato, dalam penelitiannya berargumen bahwa kedisiplinan mulai lahir pasca perang dunia, yaitu ketika Jepang kalah dalam peperangan, dan merasa tidak ada jalan lain untuk bangkit kecuali berdisiplin dalam bekerja dan mengutamakan kerja keras. Maka wajarlah, dengan asumsi ini, banyak orang tua di Jepang bekerja siang malam, bahkan tidak pulang ke rumah, ketika mereka masih kuat bekerja. Generasi yang merasakan akibat langsung peperangan adalah generasi yang tertempa dan tidak mau lagi masuk dalam penderitaan yang sama. Untuk itu mereka memegang teguh prinsip bekerja keras dan penuh kedisiplinan.

Poin kedua dalam diskusi ini ialah “seruan hidup baru” yang di kampanyekan oleh pemerintah Jepang.  Sejak tahun 1956, pemerintah dan tokoh masyarakat memulai kampanye nasional ‘meningkatkan moral publik’, yaitu kampanye untuk mengajak rakyat agar bertingkah laku ‘sesuai dengan standar masyarakat yang beradab’. Himbauan-himbauan yang disampaikan kepada publik antara lain:

  1. Tepat waktu (jangan ngaret); waktu itu ada istilah ‘waktu Jepang’, yang berarti ‘selalu terlambat’
  2. Mengantri (terutama ketika menunggu kendaraan umum)
  3. Buang sampah pada tempatnya
  4. Menanam pohon dan bunga, untuk menciptakan lingkungan yang indah dan asri Perusahaan-perusahaan produsen arloji dan jam dinding menjadi sponsor dalam kampanye tepat waktu. Kantor-kantor instansi pemerintah pada jam-jam tertentu membunyikan lonceng tanda waktu, supaya warga sekitarnya dapat mencocokkan dengan arloji masing- masing. 
Untuk kampanye mengantri, para relawan mendatangi stasiun kereta api, terutama pada saat-saat ada arus mudik dan arus balik mudik, menegur dan mengingatkan penumpang yang menyerobot. Jika ada yang buang sampah sembarangan, para relawan menghampiri dan memberi teguran halus. Untuk program menanam pohon dan bunga, warga masing-masing daerah dihimbau untuk bersama-sama kerja bakti.

Kampanye-kampanye ini semakin dilakukan dengan gencar ketika menjelang penyelenggaraan Olimpiade Tokyo pada tahun 1964. Karena ketika penyelenggaraan Olimpiade, pekerja media dari seluruh dunia akan datang ke Tokyo (dan kota-kota lain di Jepang). Oleh karena itu, kota-kota Jepang yang bersih dan indah serta masyarakat Jepang yang sopan dan tertib, akan menaikkan citra Jepang di mata dunia. Inilah argumen yang diberikan oleh pemerintah kepada rakyat ketika melakukan himbauan. Himbauan tersebut berhasil. setelah Olimpiade Tokyo, kota-kota di Jepang menjadi bersih dan indah, masyarakat Jepang menjadi tertib, tepat waktu dan sopan.

Bahan bacaaan:

  1. Hashimoto, T. (2009). Japanese clocks and the history of punctuality in modern Japan. East Asian Science, Technology and Society, 2(1), 123–133.
  2. January, J. S. (2008). A brief history of Punctuality in Japanese society, (January), 1–6.
  3. Ong, Susy. (2016) Revolusi Pola Hidup

 

Advertisements