AkB 48 kawaii desune…. Ano onna ga kawaii desu

Bagi mereka yang mempelajari tentang Jepang pasti pernah mendengar kata “kawaii” kawaii sering diartikan sebagai “cuteness” dalam bahasa Inggris. Ketika dimaknai dalam bahasa Indonesia berarti lucu yang cenderung manis sedangkan “kawaii” menurut geneologi bahasa Jepang, pada zaman Taishou sampai tahun 1945 kawaii dituliskan kawayushi kemudian berubah bentuk menjadi kawayui setelah tahun 1945 sampai pada 1970. Meski demikian, arti dari kawayushi dan kawayui sendiri masih sama, yakni kawaii.

1970-an kata “kawaii” cenderung dituliskan berbentuk bulat dan kekanak-kanakan atau sekarang kita menyebutnya di Indonesia tulisan “alay”. Awalnya mulai dituliskan oleh remaja putri di sekolah ketika periode tersebut, namun cara menuliskan “kawaii” seperti ini mendapat kecaman dari pihak sekolah di Jepang karena tulisan “kawaii” ini sulit untuk dibaca dan melenceng dari tulisan Jepang yang telah distandarkan. sehingga tulisan ini kemudian terlabel dengan maru-ji (tulisan bundar), koneko-ji (tulisan anak kucing), manga-ji (tulisan komik), dan burikko-ji (tulisan kekanak-kanakan). setelah mendapatkan pelabelan, “kawaii” mulai menjadi ikonik di jepang dan makin populer serta merambah ke berbagai bidang, seperti industri pakaian, makanan, bahasa Jepang, pernak-pernik, sampai artis idola, dan kawaii ini mencapai puncaknya pada 1980-an.

Tanggapan saya atas pemaparan ini ialah “kawaii” bukan sebuah budayaseperti yang biasa kita dapati, namun merupakan sebuah ikonik ter labelyang ter kapitalisasi dan dimanfaatkan oleh pemilik modal.

Tulisan ini sedikit mengomentari sebuah tulisan yang berjudul REPRESENTASI BUDAYA KAWAII DALAM CHARA-BENTOU oleh Hendy Reginald Cuaca Dharma dalam Jurnal LINGUA CULTURA Vol.9 No.1 May 2015 hal.29

Advertisements