Terjemahan

A New Life for the New Japan

bagian dalam bab 5

Molding Japanese Minds

Buku karya Sheldon Garon

By . Edi Hariyadi

Mengapa kelompok progresif mendukung pendidikan sosial yang disponsori negara hanya bisa dijelaskan sebagian oleh kondisi organisasi swasta di Jepang yang kronis tidak punya dana. Penjelasan lebih lengkap bersandar pada (namun jarang diakui) fakta kehidupan politik di Jepang pasca perang. Kelompok progresif dan konservatif umumnya sepakat pada isi pendidikan sosial, yang bertujuan untuk “perbaikan kehidupan sehari-hari.”

Para pejabat, pemimpin desa, dan aktivis kelas menengah perkotaan telah bersekutu dalam banyak kampanye untuk memodernisasi dan merasionalisasi kehidupan sehari-hari sejak awal tahun 1920-an. Setelah Jepang memulai perang skala penuh dengan Cina pada tahun 1937, pemerintah membuang tujuan “meningkatkan” standar hidup yang berpihak pada “renovasi kehidupan sehari-hari” (seikatsu sasshin). Meskipun dorongan baru selalu dihasilkan dalam kampanye tangan-besi berefek kesederhanaan masa perang, banyak perempuan dan laki-laki kelas menengah yang aktif dalam kampanye perbaikan kehidupan sehari-hari  sebelum perang, terjun ke dalam pergerakan masa perang dengan semangat yang sama, sebagian karena intervensi rezim, juga termasuk upaya untuk memperbaiki gizi dan mendirikan tempat day nurseries untuk anak-anak petani selama bulan-bulan musim panas yang sibuk. Begitu kuatnya kepercayaan orang Jepang pada modernisasi, kemajuan, dan ilmu pengetahuan, bahwa kontradiksi dari kampanye perang atau bencana kekalahan pada tahun 1945 membuat aliansi untuk kampanye peningkatan kehidupan sehari-hari menjadi lebih dikenal sebagai “Kampanye Hidup Baru” (shin seikatsu undou).

Memang, kekuatan kelompok progresif memainkan peran sentral dalam menghidupkan kembali kampanye perbaikan negara setelah Perang Dunia II. Pada tanggal 20 Juni 1947, kabinet koalisi yang dipimpin oleh Menteri Sosialis yang pertama Katayama Tetsu, mengumumkan rencana untuk meluncurkan Kampanye Rakyat untuk Membangun Jepang Baru (Shin Nihon Kensetsu Kokumin Undou). Pemerintah sayap kiri ini sangat ingin  merekonstruksi Jepang sebagai “bangsa yang demokratis, damai, dan berbudaya.” Pemimpin bermaksud melakukannya, kabinet Katayama menyatakan, dalam pengembangan cepat “kampanye Hidup Baru”. Yang menonjol di antara tujuan sentral kampanye ini adalah “pembentukan kebiasaan rasional dan demokratis dalam kehidupan sehari-hari.”

Penanaman kebiasaan “demokratis” tidak menjadi bagian dari gerakan  perbaikan sebelum perang, tetapi dalam hal-hal lain Perdana Menteri Katayama merevitalisasi proyek negara yang diarahkan pada peningkatan kehidupan sehari-hari, dengan segala kontradiksi sebelumnya. Di satu sisi, seperti dalam era sebelum perang, kabinet mengumumkan catatan yang kuat pada modernisasi dan perbaikan. Kampanye ini dirancang untuk membujuk masyarakat agar “mempertimbangkan hal-hal yang rasional sebagai dasar hidup sehari-hari dan mengurus diri sendiri dengan efisien. Kebiasaan feodal akan dihapus, dan dicerahkan, menyenangkan, dan ditetapkan kebiasaan demokratis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita akan mempromosikan penemuan dan perbaikan dalam kehidupan masyarakat dalam segala aspek pakaian, makanan, dan tempat tinggal.” Bahkan simbol rasionalitas dan efisiensi tetap ada sejak awal 1920-an. Pada bulan November 1947, Menteri Pendidikan mengumumkan penghargaan untuk balai warga negara yang telah bekerja memajukan budaya dalam masyarakat. Hadiah ini tak lain adalah jam komunal yang besar, yang sebelum perang para pendukung peningkatan kehidupan sehari-hari telah lama berpendapat bahwa sangat penting untuk mengembangkan rasa hormat terhadap waktu di antara penduduk setempat.

Pada saat yang sama pemerintah Katayama tidak diragukan lagi bahwa tujuan langsung dalam rasionalisasi kehidupan sehari-hari adalah untuk memperkuat negara bangsa (nation state) dan perekonomian nasional, daripada memperbaiki kondisi hidup. Sebagai prospektus yang dibuat jelas, kampanye Hidup Baru Katayama bertujuan, di atas itu semua, kerja sama masyarakat dalam menghadapi hiperinflasi, stagnasi industri, kekurangan modal, dan aktivitas mencolok pasar gelap yang melanda ekonomi Jepang di tahun-tahun sesudah awal perang. “Rasionalisasi” menjanjikan  kondisi kehidupan lebih “menyenangkan” pada beberapa waktu yang akan datang, namun dalam jangka pendek, ini menjadi semacam istilah negatif yang mengingatkan kita pada gerakan penghematan masa perang. Kabinet meminta publik, pertama dan terutama, untuk “menghilangkan pemborosan dalam kehidupan sehari-hari dan mengurangi pengeluaran pada barang mewah.” Dalam “Seruan kepada Bangsa” pada bulan Agustus 1947, Katayama mengakui bahwa kehidupan tidak membaik, tapi ia menasihati bahwa “rakyat Jepang harus menanggung rasa sakit dari operasi bedah besar untuk menghilangkan semua penyakit ekonomi.” Karena impor bangsa kita jauh lebih banyak dari ekspor, lanjutnya, “kita dituntut untuk bekerja lebih keras dengan menanggung semua kesulitan yang datang dengan ide mengorbankan hari ini untuk masa depan yang lebih baik.” Untuk masa itu, Hidup Baru masih tampak mirip dengan yang lama.

Aspek yang paling luar biasa dari kampanye Hidup Baru Katayama adalah bahwa kabinet yang dipimpin Sosialis ini mengandalkan teknik rezim sebelum kalah perang tentang kebijakan bujukan moral dan pendidikan sosial dalam upayanya untuk memecahkan masalah ekonomi bangsa. Untuk memaksa setiap warganya menabung lebih banyak, bekerja lebih keras, dan menghindari pasar gelap, Katayama mencari tidak kurang dari regenerasi moral rakyat Jepang. Mengulang Bergema  pernyataan birokrasi sebelum perang dan masa perang pada tingkat luar biasa, koalisi yang dipimpin Sosialis ini mewanti-wanti bahwa “moralitas  sedang merosot dan pikiran berada dalam fermentasi. Hasilnya adalah bahwa tatanan sosial berada dalam kekacauan dan yang sangat mendasar, masyarakat nasional (kokumin kyoudoutai) menjadi retak dengan mengerikan …. Untuk melewati masa krisis, kita harus membangunkan semua orang dengan semangat baru yang kuat dan dipenuhi dengan keinginan dan semangat untuk membangun kembali tanah air kita. “

Seperti sebelum perang, dalam kampanye  “ketekunan dan penghematan”, kebangkitan semangat baru ini mempengaruhi “peningkatan kemauan bekerja” di antara rakyat. Dan dalam upaya kesejahteraan sosial lebih lanjut diengan biaya minimal pada pemerintah, kampanye Hidup Baru juga berjanji untuk mendorong “rasa tanggung jawab untuk kesejahteraan diri sendiri dan semangat persahabatan melalui bantuan gotong-royong.”

Sementara bersikeras bahwa ini adalah “kampanye rakyat” berbasis “prakarsa setiap sektor masyarakat,” kabinet Katayama tidak ragu untuk mengandalkan jaringan pendidikan sosial negara yang terorganisir  secara hirarki  untuk meluncurkan kampanye Hidup Baru. Mengikuti preseden-preseden yang ditetapkan oleh  para pejabat pendidikan sosial Departemen Pendidikan, usulan kabinet untuk “membangkitkan aksi” sekolah-sekolah, kelompok-kelompok yang terkait dengan sekolah, asosiasi pemuda, asosiasi perempuan, organisasi keagamaan, dan kelompok-kelompok lainnya. Juga akan “bekerja untuk membentuk Hidup Baru. . . . dengan membuat gedung publik bagi warga masyarakat. ” Dalam rencana konkret untuk mengefektifkan Kampanye Rakyat untuk Membangun Jepang Baru pada tahun 1948, pemerintah lebih berkomitmen untuk membuat dewan koordinasi pada setiap prefektur dan mensponsori “forum rakyat” di setiap lokasi, tempat,kerja, dan sekolah.

Dukungan Partai Sosialis terhadap kampanye yang statis dan moralistik tersebut mungkin membingungkan. Untuk beberapa hal, promosi kabinet Katayama tentang “Hidup Baru” mencerminkan pemikiran abdi negera yang lebih tinggi dan mitra koalisi Sosialis yang lebih konservatif  dalam partai-partai Aliansi Demokrat dan Rakyat. Kabinet Katayama bukan pemerintahan pascaperang pertama yang mendorong secara ekplisit kampanye Hidup Baru. Sebuah kabinet yang dibentuk oleh partai Progresif (pendahulu  partai Demokrat) sebelumnya telah meluncurkan Kampanye untuk Meningkatkan  Moralitas Ekonomi dan Hidup Baru pada bulan Februari 1946.

            Namun demikian,   kampanye resmi yang didukung oleh kelompok Sosialis untuk mempromosikan Hidup Baru ini, didorong oleh lebih dari sekadar aliansi sementara dengan kelompok konservatif. Para sosialis terkemuka sudah sejak tahun 1920-an percaya bahwa negara dan kelompok-kelompok perantara harus bergabung bersama-sama membasmi habis-habisan “kebiasaan feodal” sambil membawa ilmu pengetahuan dan rasionalitas kepada rakyat. Sebuah visi demokratik sosial dari kampanye Hidup Baru muncul secara menonjol dalam prospektus kabinet Katayama dalam Kampanye Rakyat Membangun Jepang Baru. Hidup Baru tidak selalu berarti peningkatan tingkat konsumsi pribadi, tetapi ini didasarkan pada “keadilan sosial” dalam “beban masyarakat akan dibagi secara adil” dan nilai pekerjaan dalam membangun kembali Jepang akan dihormati, apakah itu “kerja otot atau kerja otak. “

            Kampanye Hidup Baru juga berusaha untuk menumbuhkan “rasa solidaritas sosial,” yang akan memungkinkan orang untuk “memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan melalui perkawanan dan kerjasama gotong royong.” Kelompok sosialis dan konservatif berbicara tentang Kehidupan Baru dalam term yang agak berbeda, tetapi mereka sepakat pada bagian yang esensial. Kampanye Hidup Baru akan berpusat pada memobilisasi kelompok untuk mengorganisir komunitas mereka dengan cara yang umumnya ditindaklanjuti dengan agenda negara dan jarang ada yang menentangnya.

            Selain ajaran sosial demokratik, ajaran Kristen memainkan peran utama dalam kepentingan Sosialis setelah perang dalam mereformasi kebiasaan-kebiasaan masyarakat.  Mentri-mentri Sosialis dalam kabinet Katayama kebanyakan berasal dari partai sayap kanan, yang didominasi oleh kelompok non-Marxis dari para Sosialis Protestan dan pemimpin buruh. Setidaknya enam anggota kabinet Katayama – lima di antaranya Sosialis – beragama Kristen atau telah dipengaruhi oleh ajaran Kristen.

            Banyak sosialis Kristen, laki-laki atau perempuan, telah aktif dalam gerakan menabung sebelum perang dan masa perang, kampanye perbaikan kehidupan sehari-hari, dan khususnya gerakan untuk menghapuskan prostitusi berlisensi. Masyarakat Murni sebelum perang, setelah semua, telah dipimpin oleh Abe Isoo, sosialis Kristen veteran yang saat itu menjabat sebagai ketua partai Masa Sosial selama tahun 1930-an. Beberapa kaum sosialis Kristen pascaperang telah dipengaruhi oleh karya para ahli  sosial Protestan awal abad kedua puluh  seperti Tomeoka Koosuke, yang menekankan kemanjuran pengajaran berulang-ulang moralitas yang sehat dan kebiasaan penghematan pada masyarakat miskin. Yang lainnya terinspirasi oleh pendidik Kristen Nitobe  Inazoo dan pembaru sosial Kagawa Toyohiko, keduanya mengambil bagian dalam gerakan setengah resmi koperasi  pertanian dalam rangka meningkatkan kehidupan material dan spiritual rakyat pedesaan selama era sebelum perang.

Katayama Tetsu sendiri adalah seorang yang mempunyai misi. Perdana menteri Jepang Kristen pertama adalah kurang lemah lembut ketika dia menyatakan bahwa pemerintah Jepang, seperti partainya, akan “dipandu oleh semangat moralitas Kristen.” Bagi Katayama, kelemahan bangsa dihasilkan dalam tingkat yang signifikan dari kegagalan pemerintah sebelumnya dalam menyampaikan moralitas ini pada warga negara, baik dalam bidang moral seksual atau kebiasaan sehari-hari. Di sinilah dia yang, di tengah pengangguran merajalela dan gizi buruk, bisa menyarankan masyarakatnya melawan ketergantungan pada bantuan pemerintah dengan kata-kata basi itu, “Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri.”  Seperti pemimpin partai Masa Sosial sebelum perang, Katayama mungkin juga menjadi salah satu orang Jepang pertama pada akhir tahun 1930-an yang menggunakan istilah “kampanye Hidup Baru,” yang disamakan dengan gerakan peningkatan kehidupan sehari-hari.  Dia rupanya meminjam frase dari gerakan  Hidup Baru Cina yang diluncurkan pada tahun 1934 oleh Chiang Kai-shek, kepala pemerintahan Nasionalis dan sama-sama beragama Kristen.

Propaganda Kabinet Katayama tentang Hidup Baru lebih berkesan sebagai antusiasme kamp progresif untuk kampanye resmi daripada hasil yang nyata. Kampanye Rakyat untuk membangun Jepang baru, baru mulai terwujud ketika pemerintah Katayama turun pada Maret 1948. Kabinet-kabinet berikutnya tidak melakukan gerakan yang sama selama akhir 1940-an, karena tidak ada pemerintahan yang bisa berharap untuk membujuk masyarakat mengenai prospek dari “Hidup Baru” di tengah situasi ekonomi yang mengerikan.

Namun, ekonomi Jepang mengalami pemulihan dramatis selama awal tahun 1950-an, berkat Perang Korea, dan kepentingan pejabat dan  masyarakat akar rumput terhadap gerakan Hidup Baru meningkat. Pada tahun 1951,  Yomiuri Shimbunsha, yang menerbitkan salah satu harian terkemuka nasional, memulai pemberian “Pujian bagi Kelompok dan Distrik untuk Model Hidup Baru.” Perusahaan surat kabar ini lebih lanjut merangsang partisipasi dalam gerakan-gerakan lokal dengan menerbitkan Shin seikatsu  (Hidup baru), sebuah surat kabar harian yang dijual terutama oleh kelompok-kelompok perempuan kepada perempuan -perempuan di lingkungannya. Organisasi-organisasi perempuan nasional juga sering mensponsori pameran dan kampanye Hidup Baru. Untuk mengambil salah satu dari banyak contoh, di tingkat lokal prefektur Ibaragi  terjadi ekspansi yang cepat gerakan Ilmu Kehidupan Sehari-hari dalam tahun 1951. Mencerminkan upaya promosi tabungan dan pendidikan sosial pemerintah, para gubernur di Hokkaido dan beberapa prefektur lainnya mendirikan dewan Hidup Baru dalam kantor-kantor prefektur dan kota.

            Komitmen baru pemerintah untuk kampanye Hidup Baru mengalir dari sejumlah kepentingan seksional.  Birokrat pendidikan sosial Departemen Pendidikan  tetap menjadi kekuatan utama, seperti yang mereka lakukan dalam kampanye perbaikan kehidupan sehari-hari pada masa antara Perang Dunia I dan II. UU Pendidikan Sosial tahun 1949, bersama dengan penyebaran gedung-gedung pertemuan warga, memberikan Departemen Pendidikan saluran yang tidak preseden pengaruh terhadap perempuan dan remaja. Sejak awal, kampanye Hidup Baru mengandalkan aktivisme asosiasi perempuan setempat dan kelompok pemuda – yaitu, organisasi-organisasi yang sudah rutin beroperasi dengan dorongan dan bantuan keuangan dari pejabat pendidikan sosial. Selain itu, Departemen Pertanian dan Kehutanan telah berjalan sendiri dengan kampanye Hidup Baru di pedesaan melalui jaringan nasional “penyuluh kehidupan sehari-hari.” Sebuah inovasi era Pendudukan meniru model penyuluh di Departemen Pertanian Amerika, penyuluh mempromosikan pembentukan di pedesaan “kelompok peningkatan kehidupan sehari-hari” dan klub 4-H . Para birokrat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan,  pada bagiannya, membantu dalam gerakan Hidup Baru terutama dalam meningkatkan kebersihan publik. Prioritas utama mereka adalah untuk membuat kerjasama organisasi penduduk lokal dalam sebuah gerakan nasional untuk membasmi nyamuk dan lalat.

            Gerakan Hidup Baru pemerintah dan  non-pemerintah bersatu pada tahun 1954. Pada bulan Desember, menteri pendidikan memerintahkan Dewan Pertimbangan Pendidikan Sosial untuk merumuskan rencana memajukan kampanye Hidup Baru “dari perspektif pendidikan sosial.” Dalam laporannya Februari 1955, dewan menyatakan keprihatinan yang mendalam tentang sifat menyebar dan sementaranya banyak gerakan Hidup Baru yang ada. Panel itu mengusulkan pembentukan segera sebuah organisasi nasional yang akan mengkoordinasikan kampanye ini, yang sepanjang waktu bersikeras bahwa gerakan individu tetap “spontan dan otonom.”

            Bertindak atas rekomendasi dewan penasehat, pemerintahan yang baru terbentuk Hatoyama Ichiroo mensponsori penciptaan Asosiasi Kampanye Hidup Baru (Shin Seikatsu Undoo Kyookai) pada September 1955. Perdana menteri meyakinkan publik bahwa kampanye Hidup Baru tidak akan menjadi seperti pemerintah mendesak rakyat untuk “melakukan ini, melakukan itu.” Pembiayaan resmi kampanye, tetap saja, membatasi potensi aktivisme akar rumput secara otonom. Anggaran pertama tahunan asosiasi sebesar 50 juta yen, jumlah yang agak lumayan, didanai sepenuhnya dari uang asistensi khusus Departemen Pendidikan untuk pendidikan sosial. Organisasi koordinator menerima sebagian besar dana dari pemerintah pusat sampai tahun 1979.

            Pembentukan Asosiasi Kampanye Hidup Baru menunjukkan, karena tidak ada yang lain, daya tarik yang terus-menerus perbaikan kehidupan sehari-hari bagi  kubu konservatif , liberal, dan Kiri moderat pada pasca perang. Perdana Menteri Hatoyama, sponsor antusias kampanye, adalah seorang politisi masa pra-perang yang suka berperang  yang pemerintah Pendudukan AS telah membersihkan perilaku pro-fasisnya. Mantan birokrat Departemen Dalam Negeri masa-perang Gotoo Fumio dan Yasui Seiichiroo, yang juga telah dibersihkan  dari kegiatan ultranationalisnya, duduk di dewan direktur asosiasi pada paruh kedua tahun 1950-an. Pada saat yang sama, direksi termasuk orang Kristen yang suka damai  Yanaihara Tadao dan  beberapa sosialis Jepang yang sangat terkenal – Katayama Tetsu, Kagawa Toyohiko, dan perwakilan resmi dari partai Sosialis, Miwa Jusoo. Dalam kapasitasnya sebagai direktur eksekutif dari tahun 1958-1962, Katayama memainkan peran yang sangat aktif dalam memberitakan Hidup Baru. Yang juga menjabat sebagai pejabat asosiasi adalah pemimpin-pemimpin organisasi perempuan Jepang yang utama, terutama sebelum perang Yamataka (Kaneko) Shigeri, Oku Mumeo, dan Ichikawa Fusae. Kelompok politik yang  signifikan yang tidak berpartisipasi dalam Asosiasi Kampanye Hidup Baru hanyalah Partai Komunis yang kecil, yang mengkritik contoh terbaru dari pendidikan sosial yang dijalankan oleh pemerintah – yang secara fundamental telah menentang UU Pendidikan Sosial tahun 1949.

            Seperti dalam kampanye perbaikan sebelumnya, Asosiasi Kampanye Hidup Baru  berhasil berkerjasama secara luas menyelenggarakan hasrat terhadap modernisasi, ikatan sosial, dan sebuah negara dan ekonomi nasional yang kuat. Pada bulan November 1955 Konferensi Nasional yang pertama Hidup Baru menyepakati agenda sebagai berikut :

1. Penyederhanaan Upacara Seremonial

2. Peningkatan Moralitas Publik

3. Perbaikan dalam Makanan, Pakaian, dan Tempat Tinggal

4. Rasionalisasi Tabungan dan Belanja Rumah Tangga

5. Perhatian terhadap Waktu

6. Penghapusan Pemborosan

7. Perbaikan dalam Fungsi dan Kebiasaan Kehidupan Sehari-hari

8. Perbaikan di Bidang Kesehatan dan Sanitasi

9. Melawan Adat Tahayul

10. Kampanye untuk Membasmi Nyamuk dan Lalat

11. Promosi Hiburan yang Sehat

12. Kampanye untuk saling Gotong-royong

13. Keluarga Berencana.

Beberapa tujuan tersebut berpusat pada pembangunan masyarakat dan penguatan solidaritas sosial. Berkomitmen untuk “mendorong spirit publik” dan saling membantu, Asosiasi Kampanye Hidup Baru bekerja untuk menyebarkan “moralitas sosial, moralitas berlalu-lintas, dan pengetahuan pencegahan kebakaran.” Kegiatan untuk menumbuhkan patriotisme – atau “mengangkat cinta Tanah Air dan kemanusiaan” – juga berada pada tempat teratas dalam daftar. Dalam hal pencegahan kejahatan, gerakan berusaha “menghapus sumber kenakalan remaja.” Buletin bulanan Asosiasi mempublikasikan secara teratur upaya komunal dalam meningkatkan kebersihan umum.

            Kegiatan-kegiatan lainnya bertujuan membasmi habis-habisan adat istiadat yang memalukan kelas menengah perkotaan dan yang dianggap menodai citra Jepang di mata pengunjung dari Barat. Pengaruh Kristen, sosialis, dan kelompok perempuan ini jelas terlihat dalam program Asosiasi Kampanye Hidup Baru dalam mendorong “pendidikan kesucian” dan “pemikiran kemurnian” di sekolah-sekolah dan di antara kelompok-kelompok pemuda. Dalam upaya yang terkait dengan “meningkatkan moralitas publik” pada tahun 1956, asosiasi mempromosikan Kampanye Hidup Baru  di jalan-jalan. Dibantu oleh perempuan, siswa SMA, dan Pramuka, penyelenggara kampanye  berusaha untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan banyak orang Jepang yang bertindak dengan sedikit pertimbangan terhadap orang lain setelah mereka meninggalkan lingkungan mereka sendiri. Membuang sampah sembarangan  dan lelaki yang memelorotkan pakaian dalam seseorang di dalam kereta menjadi sasaran yang jelas. Khawatir dengan pengunjung asing pada Olimpiade 1964 di Tokyo yang akan terkejut dengan lingkungan perkotaan tidak sedap dipandang dan tidak sehat, asosiasi secara substansial memperluas kegiatan setelah tahun 1959, dengan penekanan pada Kampanye yang didanai dengan baik untuk Mempercantik Jepang.

Meskipun jaminan  terhadap kebebasan beragama lebih kuat dalam konstitusi pascaperang, pendukung kelas menengah dan birokrasi Hidup Baru juga menghantam “kebiasaan takhayul” pada masyarakat Jepang biasa, sebanyak yang mereka miliki sebelumnya 1945. Kampanye bahkan menyerang praktek pembelian dan membakar dupa di atas dasar candi Buddha; penganut biasa memutar-putar asap di sekitar tubuh mereka untuk menyembuhkan penyakit atau mengurangi rasa sakit. Bagi pemimpin Hidup Baru, kebiasaan-kebiasaan tersebut mengungkapkan “kemubaziran mengejutkan yang dikeluarkan pada praktek keagamaan yang berlebihan.”

Asosiasi Kampanye Hidup Baru mengajukan pembangunan komunitas dan modernisasi sebagai tugas penting dalam hak mereka sendiri, tapi banyak dari kegiatan kampanye tetap fokus, seperti ketika di bawah kabinet Katayama dan sebelum 1945, membujuk  rakyat untuk menabung, berhemat, dan bekerja lebih keras. Banyak seruan positif kampanye terletak pada janji mereka untuk memperbaiki keuangan rumah tangga dengan menawarkan nasihat tentang bagaimana mengurangi biaya yang amat besar dari ritual kehidupan Jepang – pernikahan, pemakaman, pemberian hadiah,  dan sejumlah besar “formalitas-formalitas kosong.” Kampanye Hidup Baru berulang kali memilih festival akhir tahun dan perayaan Tahun Baru. Para aktivis mendesak untuk “menahan diri” (jishuku) tidak hanya dalam membuang pesta-pesta akhir tahun, tetapi juga dalam pembelian hiasan pinus Tahun Baru (Kadomatsu) dan pohon Natal. Juru kampanye lebih lanjut mendesak rakyat untuk menghentikan pengiriman sejumlah besar kartu Tahun Baru yang hanya “demi formalitas.”

Pada saat yang sama, gerakan Hidup Baru tidak diragukan lagi memajukan agenda ekonomi negara. Salah satu prioritas tertinggi dari kampanye Hidup Baru adalah “mendorong menabung untuk yang terbaik,” diumumkan menteri pendidikan pada tahun 1955. Mengembangkan produktivitas, bukan konsumsi, akan menjadi “dasar bagi reproduksi ras Jepang,” lanjutnya.  Asosiasi Kampanye Hidup Baru bekerja sama Dewan Pimpinan Pusat untuk Promosi Tabungan, direktur pendidikan sosial, dan kelompok-kelompok lokal perempuan untuk “merasionalisasi pengeluaran rumah tangga” dan meningkatkan tabungan nasional. Sejak tahun 1959, asosiasi dan Dewan Pusat telah bergabung bersama dengan organisasi-organisasi perempuan terkemuka untuk mensponsori Pertemuan Perempuan  Nasional tahunan tentang “Hidup Baru dan Menabung.” Selain mempromosikan tabungan nasional, kampanye Hidup Baru menekankan produksi melebihi konsumsi untuk membujuk orang bekerja lebih keras dan berhemat akan mencegah kemiskinan dan ketergantungan pada bantuan negara. Mengadopsi slogan “dari prefektur yang mengkonsumsi menjadi prefektur yang memproduksi” pada tahun 1954, kampanye hidup baru di Hiroshima mengimbau keluarga-keluarga yang menerima manfaat kesejahteraan untuk kembali ke “hidup mandiri.”

            Kampanye Hidup Baru telah melibatkan ratusan ribu orang Jepang selama era pasca perang. Kebanyakan berpartisipasi sebagai anggota muda masyarakat dan asosiasi wanita, asosiasi lingkungan (burakukai atau choonaikai), dan koperasi pertanian (terutama para pemuda dan bagian perempuan). Kelompok-kelompok lokal, pada gilirannya, umumnya berafiliasi dengan dewan kampanye hidup baru di tingkat prefektur dan kota. Dewan didirikan masing-masing  satu di 47 prefektur Jepang pada akhir tahun 1956. Dewan kota  muncul hampir di mana-mana. Menurut survei dari 908 kota, kota-kota kecil, dan desa-desa pada tahun 1959, dewan kampanye hidup baru beroperasi di 735 kota (81 persen). Pada tahun 1978, sepenuhnya 65 persen pemerintah kota mensubsidi kegiatan-kegiatan lokal Hidup Baru. Menurut survei nasional Asosiasi Kampanye  Hidup Baru, opini publik pada tahun 1957, sebanyak 38 persen responden menjawab bahwa mereka sedang mengambil bagian dalam kegiatan Hidup Baru – yang teratas adalah upaya untuk memberantas nyamuk dan lalat, menghilangkan formalitas, dan mempromosikan menabung sekaligus mengurangi pemborosan.

            Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Asosiasi Kampanye Hidup Baru memperdalam basis lokal dengan memperkuat hubungan dengan ‘kelompok-kelompok yang muncul sebagai bagian secara luas “warga akar rumput dan gerakan lingkungan ibu rumah tangga.”  Prihatin dengan menurunnya solidaritas sosial di tengah urbanisasi  dan industrialisasi yang cepat, pemerintah pusat mensponsori upaya “pembangunan komunitas”, sebagaimana yang banyak pejabat Departemen Dalam Negeri lakukan di bawah Kampanye Peningkatan Lokal pada awal abad ini. Pada tahun 1971, Asosiasi Kampanye Hidup Baru meluncurkan gerakan  yang mendorong seseorang untuk “melayani kota sendiri.” Jumlah relawan yang terdaftar secara formal melonjak lebih dari satu juta pada tahun 1979, sebagian besar mengambil bagian sebagai anggota kelompok masyarakat yang ada. Kegiatan mereka berpusat pada merapikan jalan, taman, kuil, dan ruang publik lainnya – diikuti dengan pelayanian sebagai penjaga penyeberangan sekolah, bekerja untuk anak-anak dan remaja, dan membantu penerima pelayanan sosial.

            Warisan Kampanye Hidup Baru yang paling abadi adalah “sekolah kehidupan sehari-hari” (seikatsu gakkoo), yang biasanya terdiri atas kelompok belajar jangka pendek lima puluh sampai seratus ibu rumah tangga di lingkungan urban, desa, dan kota-kota. Ada 2.063 sekolah tersebut pada tahun 1981. Awal tahun 1964, Asosiasi Kampanye Hidup Baru secara aktif mengkoordinasi dan mensubsidi pengoperasian kursus-kursus studi ini untuk meningkatkan “mata pelajaran (shuutaisei) pada mereka yang bertanggung jawab atas kehidupan sehari-hari” – yaitu, mengizinkan ibu rumah tangga untuk mendidik diri mereka sendiri dan mengeluarkan pendapat mereka terhadap pertanyaan seperti harga konsumsi, keamanan produk, kesejahteraan, dan polusi. Perempuan yang berpartisipasi bebas untuk memilih topik yang menjadi perhatian langsung, namun asosiasi dan pejabat negara telah memainkan peran utama dalam memilih kuliah dan mempengaruhi program studi secara nasional. Tidak mengherankan,  ibu rumah tangga yang terdaftar sejak tahun 1960-an umumnya belajar teknik keuangan “perencanaan hidup” sehingga menghindari kemiskinan di usia tua, serta metode pengeluaran “rasional” dalam era “konsumsi massa.”

Advertisements