INTERAKSI ROBOT DAN MANUSIA DI JEPANG

TIINJAUAN TEORI BA DAN TEORI KEBUTUHAN

 By. Muhammad Reza Rustam

 

1. Pendahuluan

            Sumber daya manusia merupakan salah satu harta paling berharga yang dimiliki oleh Jepang. Sebagai negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, manusia menjadi sumber daya yang dapat diandalkan untuk dapat menjadikan Jepang sebagai negara maju. Sistem pendidikan pada zaman Edo yang menekankan akan pendidikan moral serta sistem pendidikan modern setelah masa Meiji yang menekankan pada pengetahuan Barat membuat Jepang menjadi unik karena mereka memiliki pengetahuan barat yang dijalankan dengan moral Jepang atau dikenal dengan istilah wakon yosai.

            Pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicapai oleh Jepang pasca Perang Dunia II dapat terjadi karena tingginya etos kerja yang dimiliki oleh masyarakat Jepang serta keinginannya untuk tidak tertinggal dengan negara-negara Barat. Namun semangat yang dimiliki oleh masyarakat Jepang pada pasca Perang Dunia II seperti ini tidak dimiliki oleh generasi muda yang tidak merasakan perang. Mereka yang lahir pasca perang umumnya tidak merasakan kesulitan-kesulitan yang dialami pada masa perang. Sebaliknya yang dirasakan oleh mereka adalah kenikmatan akibat dari kemajuan yang diperoleh berkat kerja keras generasi sebelum mereka. Generasi muda Jepang kini banyak menghindari pekerjaan 3K yang merupakan singkatan dari kitanai (kotor), kitsui (berat) dan kiken (bahaya).

   Jepang telah mengalami kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi selama abad ke-20. Perkembangan teknologi di Jepang menjadikan Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Jepang berjalan beriringan dan saling mendukung untuk mampu menciptakan suatu inovasi-inovasi baru bagi masyarakat dan negara. Teknologi robot adalah contoh dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai oleh Jepang. Keberadaan teknologi robot diharapkan mampu untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa atau sudah ditinggalkan oleh manusia, dalam hal ini pula dukungan dari pemerintah terhadap produksi robot sangat berperan besar. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Jepang telah membiayai upaya yang berhubungan dengan robot dalam jumlah yang banyak, yang didalamnya mencakup ¥ 4.6 milliar untuk tahap pertama pembuatan robot, dan untuk perkembangan industri robot sebesar ¥ 1.1 milliar antara tahun 2006 dan 2010. [1]

Selain itu, pada bulan Februari tahun 2007, mantan perdana menteri Jepang, Shinzo Abe, telah memperkenalkan rencana pemerintah pusat untuk merevitalisasi masyarakat dan khususnya keluarga di Jepang pada tahun 2025. Inovasi 25 ini memberikan robot suatu tanggungan sosial dan gaya hidup yaitu anzen (aman), anshin (kenyamanan), dan benri (praktis). Suatu bagian dari inovasi 25 ini terperinci dalam penggambaran sketsa etnografi dari kehidupan keseharian dari keluarga Inobe, sebagai model dari rumah tangga Jepang di masa mendatang. Dimana robot manusia yang diciptakan mampu menggantikan peran dan tugas seorang ibu rumah tangga dalam keluarga di Jepang. Sehingga terjalin suatu hubungan yang cukup erat antara robot dan ibu rumah tangga di Jepang. Fenomena seperti ini bukanlah suatu hal yang mengherankan di Jepang, dan sampai saat ini tidak ada negara lain selain Jepang yang mampu mengembangkan kecerdasan manusia dalam penciptaan robot, yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek sosial masyarakatnya. [2]

2. Rumusan Masalah

            Masalah yang hendak diangkat dalam makalah ini adalah mengenai kemungkinan teknologi robot untuk menggantikan peran manusia dalam masyarakat Jepang.

 3. Landasan Teori

            Teori yang akan digunakan dalam menjawab masalah dalam makalah ini akan menggunakan Teori Ba dan Teori Hirarki Kebutuhan.

3.1. Teori Ba

Teori ba awalnya dibuat oleh Kitaro Nisida, seorang filsuf Jepang yang kemudian di kemudian diadaptasi oleh Nonaka dan Konno.[3]  Konsep ba menurut Nonaka dan Konno dijelaskan sebagai sebuah ruang bersama untuk kebutuhan yang mendesak. Bentuk dari ruang tersebut dapat berupa fisik, virtual, mental ataupun kombinasi darinya.

3.2. Teori Kebutuhan

Maslow telah membuat teori hierarkhi kebutuhan. Semua kebutuhan dasar itu adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Maslow telah membentuk sebuah hirarki dari lima tingkat kebutuhan dasar. Di luar kebutuhan tersebut, kebutuhan tingkat yang lebih tinggi ada. Ini termasuk kebutuhan untuk memahami, apresiasi estetik dan spiritual kebutuhan murni. Dalam tingkat dari lima kebutuhan dasar, orang tidak merasa perlu kedua hingga tuntutan pertama telah puas, maupun ketiga sampai kedua telah puas, dan sebagainya. Kebutuhan dasar Maslow adalah sebagai berikut:Kebutuhan Fisiologi

1. Kebutuhan Fisiologis

Kebutuhan biologis yang terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Pada dasarnya pada bagian ini adalah kebutuhan akan sandang pangan.

2. Kebutuhan Keamanan

Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif.

3. Kebutuhan sosial

Kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan akan sosial yang bisa tercapai ketika kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuhi.

4. Kebutuhan untuk dihagai

Ketika tiga kelas pertama kebutuhan terpenuhi, maka kebutuhan untuk penghargaan bisa menjadi penting. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain dan rasa hormat dari orang lain.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka yang terakhir adalah kebutuhan mengaktualisasi diri untuk membuktikan keeksistensian  dari individu terebut.

 4. Analisa

Robot dalam penggunaanya mendatangkan pertentangan di negara Barat, karena adanya kemungkinan mereka dapat menggantikan manusia di masa depan atau akan mengakibatkan emosi palsu. Namun bagi masyarakat Jepang secara umum malah memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap segala jenis robot. Beberapa manga dan anime seperti doraemon mungkin memiliki konstribusi paling penting dalam pembentukan perspektif positif masyarakat Jepang terhadap robot.

Dengan menggunakan konteks ba (tempat), robot diberikan tempat oleh manusia untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia. Sebelum robot ditemukan, manusia telah menggunakan mesin untuk memudahkan manusia dalam bekerja. Mesin juga membuat produktifitas meningkat sehingga efisiensi dapat tercapai. Pada zaman Edo di Jepang telah terdapat boneka mekanik yang dikenal sebagai Karakuri Ningyo.[4]

Penggunaan mesin dalam pertanian juga telah membuat Jepang mampu mengatasi kekurangan tenaga kerja sehingga mengakibatkan sedikitnya generasi muda yang melakukan pekerjaan kotor dan mesin-mesin di pabrik yang membuat pekerjaan berbahaya tidak perlu dikerjakan oleh manusia.

Menurut Hashimoto dalam Jeniffer Robertson [5]

We don’t want to build machine (robots) that do what humans cannot do, rather we want to build machine that do what humans can easily do….

“Kami tidak ingin membuat mesin (robot) yang mampu melakukan apa yang manusia tidak dapat lakukan, kami ingin menbuat robot yang mampu melakukan pekerjaan apa yang manusia mudah untuk lakukan”.

            Keberadaan mesin telah memenuhi kebutuhan masyarakat Jepang sehari hari akan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan keamanan dan keselamatan yang merupakan kebutuhan hirarki pertama dan kedua. Kemajuan teknologi yang dimiliki Jepang memungkinkan bagi Jepang untuk meningkatkan mesin-mesin yang telah diciptakannya sehingga melahirkan teknologi robot.

Kata robot berasal dari kata robota dalam sandiwara yang ditulis oleh Karel Capek dari Ceko yang memiliki arti tenaga kerja paksa. Robot kini dikenal sebagai mesin yang bentuknya menyerupai manusia. Obsesi Jepang pada robot dapat dilihat dari karya-karya fiksinya dimulai dari Tetsuwan Atomu, komik karya Osamu Tezuka tentang robot berbentuk manusia yang kemudian menjadi kartun pertama yang dibuat di Jepang hingga Doraemon, komik yang menceritakan tentang persahabatan robot berbentuk kucing dengan anak manusia. Kisah Doraemon yang kartunnya masih diputar hingga saat ini sejak tahun 1979 bisa dilihat sebagai bentuk dari keinginan masyarakat Jepang untuk memenuhi kebutuhan sosialnya melalui robot.

Robot mulai benar-benar dikembangkan di Jepang sejak tahun 1973, oleh Professor Ichiro Kato dari universitas Waseda dan untuk menciptakan robot dikenal adanya Three Laws of Robotics pertama kali diperkenalkan secara lengkap pada tahun 1942 dalam cerita pendek “Runaround”, yang menyatakan sebagai berikut. [6]

  1. Robot tidak boleh melukai manusia, atau dengan berdiam diri, membiarkan manusia menjadi celaka.
  2. Robot harus mematuhi perintah yang diberikan oleh manusia kecuali bila perintah tersebut bertentangan dengan hukum pertama.
  3. Robot harus melindungi keberadaan dirinya sendiri selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan hukum pertama atau hukum kedua.

 Jepang belum mampu untuk menciptakan robot seperti dalam Doraemon namun dapat dilihat akan usahanya untuk mencapai ke sana. ASIMO adalah robot ciptaan perusahaan otomotif Honda yang mampu berjalan dengan 2 kaki bahkan saat ini robot humanoid pun banyak membatu dalam kebutuhan-kebutuhan industri dan rumah tangga di Jepang.

Robot yang dapat membantu manusia juga sudah diciptakan sepeti robot resepsionis yang terdapat di Tokyo University of science. Dukungan dari pemerintah Jepang pun mempengaruhi perkmbangan dari industrialisasi pembuatan robot di Jepang itu dapat dilihat dari alokasi dana yang di berikan oleh pemerintah untuk produksi robot diantara tahun 2006 dan 2010. Keberhasilan manusia sebagai mahluk yang berakal budi dengan menemukan  sebuah bentuk tiruan atas dirinya yang di lihat dari sistem mekanisme gerak anggota tubuh hingga wajah yang hampir menyerupai dengan dirinya sendiri yaitu disebut dengan robot humanoid.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mendorong kemajuan pada bidang industri dapat mewujudkan kemajuan dalam berbagai aspek dan ruang lingkup kehidupan pada masing-masing negara di dunia ini. Salah satu negara yang mengalami kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  seperti ini adalah Jepang. Negara Jepang merupakan salah satu Negara maju, yang terkenal akan kemajuan teknologi, industri, pendidikan, dan bidang lainnya. Dimana hampir pada setiap ruang lingkup kehidupan masyarakatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dan dimanfaatkan dalam perjalanan kehidupan mereka. Salah satu wujud nyata kemajuan ini terlihat pada bidang industrialisasi, yang telah mampu memproduksi dan menghasilkan berbagai produk elektronik, otomotif, mesin-mesin maupun keperluan kehidupan yang lebih praktis digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di Jepang pada era modernisasi saat ini ialah bahwa terjadinya penurunan angka kelahiran, peningkatan  angka jumlah usia lanjut yang memberikan dampak pada pengurangan akan kerja di usia antara 20 hingga 30 tahun. Fenomena sosial ini menyebabkan angka jumlah penduduk produktif  menjadi semakin menurun, dan merupakan permasalahan sosial masyrakat yang dianggap perlu untuk diatasi. Dalam perjalanannya maka mulailah diciptakan dan dihasilkan suatu produk yang dinilai mampu mengatasi pemsalahan sosial tersebut.  Sehingga melalui kesemua hal ini, maka dihasilkanlah suatu produk yang digerakkan oleh mesin dan perangkat-perangkat teknologi yang telah ada. Hasil dari produk ini dapat dikatakan sebagai manusia mesin atau yang lebih dikenal dengan sebutan robot humanoid.

Beberapa ahli di Jepang, penciptaan dan produksi robot humanoidini dilatar belakangi dengan adanya fenomena dan masalah sosial yang dihadapi dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat di Jepang. Robot humanoid di ciptakan dan di produksi serta hadir dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat di Jepang, menyerupai kondisi fisik dan kemampuan bekerja seperti manusia pada umumnya. Robot humanoid ini memiliki anggota tubuh, mampu bergerak, dan melakukan pekerjaan mampu di lakukan oleh manusia.[7]

Robot humanoid ini memiliki banyak macam bentuk dan fungsi yang cenderung berbeda dengan yang lainnya. Seiring berkembangnya teknologi, berbagai robot dibuat dengan spesialisasi atau keistimewaan. Robot dengan keistimewaan khusus sangat erat kaitannya dengan kebutuhan dalam dunia industri modern. Dewasa ini mereka semakin menuntut adanya suatu alat dengan kemampuan tinggi yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan manusia ataupun menyelesaikan pekerjaan yang tidak mampu diselesaikan manusia. Pemanfaatan teknologi robot mempunyai sisi lain yang merupakan ancaman bagi sebagian orang, karena menghilangkan kesempatan kerja. Dalam dunia industri setiap robot yang di produksi mampu menggantikan kira-kira 10 orang karyawan.[8]

Robot juga fungsikan untuk perawatan terhadap manula dan juga rumah sakit. Misalnya di Aizu Wakamatsu ada robot biru berukuran anak kecil berjalan membimbing pasien dari dan ke area operasi. Robot tidak akan pernah menjadi dokter tetapi mereka dapat menjadi pembimbing dan resepsionis. Maka pada prinsipnya saat ini sebagian besar robot humanoid yang di ciptakan digunakan dalam tiga peran. Sebagai penelitian, pelayanan, dan hiburan[9]

Melalui permasalahan sosial yang ada ini, robot humanoid mulai dimanfaatkan sebagai suatu individu yang dapat berperan dalam mengatasi persoalan sosial masyarakat yang terjadi di Jepang. Baik dalam ruang lingkup rumah tangga maupun ruang lingkup  pekerjaan. Sehingga kehadiran robot humanoidini, diterima dan mendapat tempat dalam berbagai ruang lingkup kehidupan masyarakat di Jepang. Manusia robot ini diciptakan sedemikian rupa karena diharapkan mampu berinteraksi, memenuhi kebutuhan dan menjadi teman bagi masyarakat di Jepang. Selain itu pun juga, diharapkan mampu  mengatasi masalah sosial yang terjadi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dengan berperan sebagai pekerja  baik dalam rumah tangga, perkantoran, pabrik.[10]

Dalam teori ba, manusia sebagai individu maupun kelompok merupakan tempat yang paling besar bagi gerak kreativitas robot humanoidini.Pada ruang dan tempat yang diberikan oleh masyarakat, robot humanoid mulaidapat berkreasi, bekerja, dan hidup bersama dengan manusia sebagai masyarakat, pada tempat yang disediakan layaknya manusia pada umumnya. Dalam hal ini juga, robot humanoid dimanfaatkan oleh manusia sebagai individu maupun kelompok, untuk melengkapi kekurangan dan menyediakan kebutuhan pada berbagai aspek kehidupan, yang disebakan oleh masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat Jepang ini.  dan manusia sebagai individu maupun kelompok merupakan tempat bagi robot untuk bergerak dan bekerja. Namun dilain sisi, pada tempat yang tersedia, robot humanoidberperan untuk bekerja bersama dengan manusia  pada berbagai bidang yang telah di tentukan dan mengikuti tempat yang di inginkan oleh manusia sebagai mahluk sosial, seperti industri pabrik, perkantoran, rumah sakit dan rumah tangga, untuk menyelesaikan pekerjaan, melengkapi kekurangan tenaga kerja, serta untuk memperoleh hasil dan keuntungan pada bidang-bidang tersebut.

Sebagai makhluk sosial, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lain. Fenomena hikikomori atau mengurung diri dalam kamar yang terdapat di Jepang mungkin saja dapat diatasi dengan menjadikan robot sebagai teman yang memungkinkan terjadinya interaksi antara robot dan penderita hikikori. Robot memang mungkin untuk menggantikan manusia. Namun robot juga memiliki kekurangan untuk menggantikan manusia. Dalam posisinya sebagai kebutuhan sosial manusia, robot tidak memiliki perasaan seperti halnya manusia. Marah, senang dan sedih adalah bentuk perasaan dari manusia yang unik. Teknologi saat ini memang memungkinkan sebuah robot untuk mengekspresikan raut muka marah, senang maupun sedih. Namun bukan berarti robot itu sendiri memahami arti dari masing-masing ekspresi tersebut.

5. Penutup

            Keberadaan robot dalam masyarakat Jepang terasa semakin dekat seiiring dengan makin meningkatnya kemampuan teknologi yang dimiliki oleh bangsa Jepang. Jepang menerima keberadaan robot karena keadaan yang mereka hadapi memungkinkan terjadinya hal tersebut. Robot-robot yang menyerupai manusia memungkinkan untuk menggantikan beberapa kegiatan yang sejatinya dilaksanakan oleh manusia. Dalam konteks memenuhi kebutuhan sosial, robot memiliki kekurangan seperti tidak memiliki emosi seperti yang dirasakan oleh manusia. Sikap apatis yang dimiliki oleh manusia modern mungkin saja membuat fungsi ini tidak terlalu penting. Namun sebagai makhluk sosial, interaksi yang melibatkan emosi dengan sesama tetap dibutuhkan oleh manusia. Suatu hal yang mustahil untuk dilakukan oleh robot.

Daftar Pustaka

Nonaka and Konno, The Concept of “Ba”, Buiding a Foundation for Knowledge Creation, California Management Review  Vol. 40, No. 3: 40-54, 1998.

Robertson, Jennifer,“Body & Society”,Gendering Humanoid Robots : Robo – Sexism in Japan. Vol. 16 No.2, 2010.

 

Robertson, Jennifer,“Critical Asian Studies”,Robo Sapiens Japanicus: Humanoid Robots and the Posthuman Family, 39: 3, 369 -398, 2007.

Tabuchi, Hiroko, Japan Experiments with Robots as Part of Daily Life, Jakarta Pos 13 Maret 2008

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6682. di unduh pada tanggal 1 Maret 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Tiga_Hukum_Robot diunduh pada tanggal 1 Maret 2011.


[1] Jakarta Pos (13 Maret 2008)

[2] Jeniffer Robertson, Gendering Humanoid Robots : Robo – Sexism in Japan.

[3] 1998, The Concept of “Ba”, Buiding a Foundation for Knowledge Creation, California Management Review  Vol. 40, No. 3: 40-54

[4] http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6682. Di unduh pada tanggal 1 Maret 2011.

[5] Robertson, Jennifer (2007) ‘Robo Sapiens Japanicus: Humanoid Robots and the Posthuman Family’,Critical Asian Studies, 39: 3, 369 — 398.

[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Tiga_Hukum_Robot diunduh pada tanggal 1 Maret 2011.

[7] Robertson, Jennifer, op. cit.,.

[8] The jakarta post, 13 maret 2008.

[9] Ibid.

[10] Robertson, Jennifer, op. cit.,

Advertisements