21 Mei 2015, Universitas Hasanuddin

Novel “Kani Kosen” (kani= kepiting, ko= pabrik, sen= kapal) atau Kapal Pabrik Penangkapan Kepiting karya Kobayashi Takiji (1903-1933) adalah salah satu karya sastra yang mengangkat secara lugas perlawanan rakyat miskin (pekerja) melawan kaum kapitalis birokrat, kurun waktu 1920-an. Kobayashi Takiji sendiri adalah seorang sastrawan komunis yang tewas disiksa oleh kepolisian Jepang diusianya yang ke-29 tahun.

Jepang dalam kurun waktu tahun 1920-an mengalami suasana zaman ketegangan antara kelompok sosial miskin versus kelompok social berada, ekonomi kapitalis versus ekonomi terpuruk, kelompok politik fasistis militeristis versus kelompok politik proletariat. Kaum majikan borjuis versus kaum pekerja. Partai politik berkuasa sebagai mesin kaum birokrat kapitalis berhadapan dengan partai politik proletariat yang didukung anak-anak muda dan segelintir intelektual kampus.

Kani Kosen bercerita tentang kisah kehidupan para buruh pabrik pengolahan kepiting di dalam sebuah kapal Hakkoumaru yang berlayar di perairan Kamchatka, Rusia, yang bekerja dengan sangat keras dibawah kondisi yang sangat memprihatinkan.

Novel ini pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun 1929 namun pada akhirnya di sensor dan dilarang terbit oleh pemerintah Jepang pada masa itu. Pada tahun 2008 novel ini kembali diterbitkan oleh salah satu penerbit di Jepang dan menjadi best seller pada waktu itu. Krisis ekonomi yang melanda Jepang pada tahun 2008 menjadikan para pembaca Kani Kosen pada saat itu merasa ada kesamaan situasi antara konsidi pekerja kapal Kani Kosen dengan kondisi para pekerja di Jepang pada tahun 2008. Dimana mereka tidak bahagia, tidak bisa mencari solusi dari kemiskinan mereka meski mereka bekerja keras, dan mereka juga dipaksa bekerja dengan upah rendah.

Novel Kani Kosen ini menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi jepang pada masa itu yang begitu sulit. Para nelayan miskin di daerah Iwate yang diiming-imingi untuk bekerja di kapal pengalengan kepiting dengan iming-iming upah yang besar dan fasilitas yang memadai. Namun pada kenyataannya semua itu hanya omong kosong belaka. Para pekerja/buruh disuruh bekerja dari pagi sampai malam. Para mandor pun bertindak seenaknya menyiksa para pekerja yang melawan atau pun yang ketahuan malas bekerja.

Kani Kosen ini merupakan sebuah karya yang lahir dari investigasi yang telah dilakukan oleh Kobayashi Takiji terhadap insiden pemberontakan oleh para awak kapal penangkap kepiting pernah terjadi di sekitar laut kamchatka dan berita tersebut dimuat di surat kabar hokkaido pada tahun 1926. (hakodate Shimbun, 8 sept 1926) Kobayashi membaca artikel tersebut, melakukan wawancara dengan para pelaku dan mengadakan investigasi. Hasil dari investigasi dan wawancara tersebut nantinya di muat dalam novel Kani Kosen.

Penokohan dalam narasi Kanikosen ini, tidak memiliki tokoh sentral. Tak ada tokoh yang heroik untuk memimpin dan mengorganisir sebuah pemberontakan tetapi tokoh buruh yang dimunculkan merupakan penokohan kolektif, dalam karya kobayashi kita akan menemukan tokoh yang disebut si gagap, atau terkadang si kadet, pekerja kawasaki, awak pembakaran, dan sebagainya. Kanikosen, tidak bercerita tentang kepahlawanan seorang tokoh diatas kapal, melainkan sebuah pemberontakan kolektif yang dilakukan oleh buruh dengan jumlah buruh pekerja yang lebih dari 400 orang buruh pekerja dan berasal dari berbagai pelosok daerah miskin Jepang. Ada yang berasal dari daerah pertanian di desa dan menjadi buruh di kota. Rata-rata para petani itu menjadi buruh bukan karena meninggalkan secara suka rela pekerjaan bertani mereka, tetapi karena tanah mereka dirampas tuan tanah. Ada juga yang awalnya bekerja di daerah pertambangan yang penuh gas beracun dan bahkan anak muda dari kaum terpelajar. Penggambaran kondisi yang disebutkan diatas ini memperlihatkan kondisi realitas ruang sosial masyarakat Jepang di tahun 1920-an ketika karya Kobayashi dilahirkan, dimana Konsepsi ruang sosial telah terbagi atas dua struktur dalam fenomena kehidupan. Bagian terbawah disebut proletar dan bagian diatas setelahnya disebut kapitalis.

 

Advertisements